Semarang, I’m in love..
Istilah ‘Tak kenal, maka tak sayang’ mungkin memang berlaku pada semua hal. Setidaknya
itulah yang saya rasakan saat mobil yang membawa kami tur ‘Discovery Kudus’ memasuki Semarang.
Sempat mendengar dari salah seorang peserta tur bahwa Semarang adalah kota ketiga terbesar di Indonesia tidak membuat saya serta-merta jatuh cinta. Namun pandangan itu berubah seketika saat melihat sosok asli Semarang dari dekat.
Siapa yang menyangka kalau saya bisa juga merasakan cinta pada pandangan pertama?
Semarang, adalah salah satu kota terindah yang pernah saya kunjungi. Di sana, suasana kota tua masih sangat terasa dengan banyaknya bangunan-bangunan tua yang masih berdiri dan bersanding dengan bangunan-bangunan modern dengan harmonisnya. Bangunan-bangunan tua banyak yang masih difungsikan dan dirawat dengan baik. Padahal banyak dari bangunan-bangunan tua di sana telah berdiri sejak abad ke 18. Karena keharmonisan antara bangunan tua dengan bangunan modern inilah Semarang mendapatkan peringkat kedua tata kota terbaik nasional setelah Surabaya oleh Kementerian Pekerjaan Umum tahun 2006 (sumber: semarang.go.id).
Saya masih ingat sewaktu teman saya dari Italia, Cesare, datang berkunjung ke Jakarta dan meminta saya untuk menemaninya berkeliling kota tua Jakarta. Karena saya dengar di daerah sekitar stasiun Kota banyak berdiri bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda, maka saya pun mengajak Cesare untuk bertandang ke sana. Sebelum kami sampai pun, saya sudah gencar berpromosi kepadanya tentang keindahan bangunan-bangunan tua di sana.
Namun, betapa kecewa dan malunya saya begitu sampai di tempat tujuan dan melihat dengan mata kepala saya sendiri keadaan bangunan-bangunan tua di daerah itu. Jauh dari kesan indah dan megah yang saya ‘iklankan’ kepadanya sepanjang perjalanan, kota tua Jakarta lebih berkesan seperti kota dalam film-film Itali yang ditinggalkan penduduknya setelah terjadi wabah penyakit mematikan. Nah, pandangan tentang kota tua Jakarta ini juga yang mempengaruhi penilaian awal saya saat mendengar tentang kunjungan ke Kota Tua Semarang. “Ah, paling juga sama ga terawatnya kayak di Jakarta”, begitu kira-kira yang saya pikirkan waktu itu.
Tetapi, apa yang saya lihat di Semarang was beyond my expectations.
Bangunan-bangunan tua seperti Lawang Sewu, Tugu Muda, Klenteng Sam Poo Kong, Gereja Mblenduk (atau nama lainnya gereja Immanuel), dan Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, masih berdiri tegak dan seindah yang sering ditampilkan di televisi (padahal dulu saya mengira keindahan itu hanya efek kamera).
Lawang Sewu
Hati saya tertambat pertama kali di Lawang Sewu. Istana seribu pintu yang terletak tepat di depan Tugu Muda Semarang ini begitu megah hingga membuat para peserta mencoba mengabadikannya lewat kamera dari dalam bus. Saya rasa perasaan kami semua sama pada waktu itu: takjub.
Begitu turun dari bus, banyak di antara kami yang langsung mengambil posisi untuk menjepretkan kamera walaupun belum diberi aba-aba untuk itu. Alhasil, banyak di antara kami yang dimarahi oleh penjaga Lawang Sewu. Maka tidak mengherankan setelah Pak Joko Langen mengisyaratkan bahwa kami boleh masuk, kami langsung berebut posisi yang tepat untuk membidikkan kamera.
Katanya Lawang Sewu adalah bangunan yang angker. Namun entah ide itu sama sekali tidak terlintas dalam benak saya saat itu. Satu-satunya yang saya pikirkan adalah betapa megahnya bangunan ini. Detailnya masih tampak jelas meski sebagian besar tubuh Lawang Sewu telah habis dimakan usia. Begitupun hal ini tidak menyurutkan langkah saya untuk mengabadikan keindahannya dari tiap sudut. Maka, bersama Helmi dan Adam, saya pun mulai berburu spot-spot bagus untuk difoto. Tiap langkah pun kami lakukan dengan berlari.
Kami bergabung bersama peserta yang lain untuk menuju lantai teratas Lawang Sewu. Di sini terdapat sebuah ruangan yang begitu luas, tempat dahulu lokomotif disimpan. Sebab pada awal pembangunannya tahun 1903, Lawang Sewu merupakan kantor perusahaan kereta api Belanda yang bernama Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij atau dikenal sebagai NIS. Kemudian setelah kemerdekaan, Lawang Sewu pernah digunakan sebagai kantor KODAM Diponegoro dan Kanwil Perhubungan Jawa Tengah, serta PT. Kereta Api Indonesia.
Sejatinya Lawang Sewu adalah milik PT. KAI. Namun dulu ada isu yang mengatakan bahwa pernah ada ide untuk merobohkan bangunan ini untuk kemudian dibangun hotel. Isu yang lain mengatakan bahwa tadinya Lawang Sewu akan direnovasi besar-besaran untuk dijadikan sebagai hotel. Apapun itu, pada akhirnya sekarang Lawang Sewu menjadi terbengkalai dan tak terawat. Selama menyusuri Lawang Sewu, kami dapat dengan mudahnya menjumpai bagian-bagiannya yang lapuk. Besi yang berkarat, kusen pintu dan jendela yang keropos, serta dinding-dindingnya yang ditumbuhi tanaman. Padahal saya yakin, siapapun yang pernah berkunjung ke sini akan mendapati perasaan yang sama seperti saya saat itu: takjub. Maka sudah seharusnya Lawang Sewu dipelihara dan dijadikan situs wisata yang dirawat oleh pemerintah daerah, atau setidaknya membiarkannya difungsikan kembali agar bagian-bagiannya dapat lebih terawat tanpa harus merusak atau mengubahnya.
Berikut beberapa foto yang saya ambil di Lawang Sewu:
Juga tengoklah foto favorit saya:‘terbingkai”
Dari yang saya dengar dari pemandu tur kami di Lawang Sewu, Ibu Kartini, bangunan tua ini tidak mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah. Bahkan untuk pemeliharaan Lawang Sewu sendiri, dananya hanya didapat dari sumbangan para pengunjung. Karena itulah, banyak sudut Lawang Sewu yang tidak terawat.
Oh ya, walaupun saya sama sekali tidak merasakan aura mistis di Lawang Sewu, ada kejadian yang cukup aneh yang sampai sekarang membuat saya penasaran. Saat saya dan Helmi sampai di lantai teratas, kami mencoba memasuki sebuah ruangan gelap untuk menyebrang ke sudut yang lain. Namun, saat itu kami terhenyak karena bau kotoran binatang (kelelawar atau burung saya tidak tahu) yang begitu menusuk hingga membuat kami pusing dan mual. Hal ini membuat kami mengurungkan niat untuk terus memasuki ruangan tadi dan memutuskan untuk mundur,serta lebih memilih untuk mengelilingi ruangan luas tempat lokomotif dan melihat pemandangan Semarang dari sana. Beberapa saat kemudian, para peserta yang lain pun sampai ke ruangan tempat kami berada ditemani oleh Ibu Kartini, pemandu kami yang sibuk menjelaskan sejarah dan fungsi ruangan-ruangan Lawang Sewu. Kemudian Ibu Kartini menuju ke dekat tempat ruangan gelap yang dipenuhi bau kotoran tadi. Saya, yang penasaran tentang apa saja yang dibicarakan oleh Ibu Kartini pun ikut bergabung. Namun, yang membuat saya heran, bau kotoran hewan yang sebelumnya terasa begitu menusuk telah hilang begitu saja. Kejadian ini saya ungkapkan kepada Helmi yang juga merasakan hal yang sama. Kami berdua menjadi seperti kaset rusak yang terus-terusan berucap, “Ih, aneh banget ya.”.
Saking serunya acara berfoto para peserta (yang semuanya narsis), kunjungan ke Lawang Sewu yang tadinya direncanakan hanya setengah jam, molor menjadi satu setengah jam. Itu pun setelah kami ‘diancam’ akan ditinggalkan. Kalau tidak begitu, saya yakin banyak di antara peserta yang akan memilih untuk pergi ke sekretariat Pramuka terdekat dan mendirikan tenda di sana. Oya, walaupun kunjungan kami ke Lawang Sewu sudah ‘dimolorkan’, tetap saja kami tidak sempat melihat seluruh bagian Lawang Sewu. Padahal, masih ada penjara bawah tanah yang begitu gelap dan berbau mistis. Hiiiii…..
…to be continued to the next post…
February 9, 2008 at 8:56 pm
Halo, selamat ya… blog Anda banyak yang ndatengin dari luar negeri juga.
Wah, tidak rugi saya ajak anda ke Kudus. Ngabisin nasi… he he he
Oke kawans, kita akan punya acara lanjutan. Bikin onlinevideojournalism. Ini lebih menarik. Syaratnya kudu punya handycam. Kudu punya teman yang berbakat presenter dan kudu punya teman yang demen utak-atik software untuk edit video.
Nantinya, kita akan ajarkan teknik videografi sehingga peserta paham dunia jurnalistik televisi dan bisa memanfaatkan kekuatan jurnalistik televisi melalui jaringan internet melalui blog masing-masing.
Nah, bisa kebayang kan? Bagaimana kalau blog loe di”klik” lalu muncul video rekaman lawang sewu. Pas ketemu hantunya, lalau kerekam dan bilang “Halloooo I love you…” Apa gak heboh tuh…
Untuk sementara, ide ini masih dibahas dengan sponsor kita (tetap Djarum LA). Mudah-mudahan Maret sudah bisa jalan. Maunya kawan-kawan Djarum, para finalis diikutkan lagi agar pengetahuannya tambah komplit.
Djarum emang beda yaa… kagak mau tanggung-tanggung kalau punya niat minterin orang neh…
Oke, aku tunggu komentar anda. Kasih tahu juga teman-teman laen
Salam
JOKO
February 14, 2008 at 6:09 pm
Hehehe. Jadi ketauan juga ya kalo saya selama berada di Kudus makannya nambah-nambah. Hohoho.
Aduh, jadi mupeng nih, Pak Joko. Nanti aku bela-belain malak handycam orang deh buat ikut acaranya. Hehehe. Semoga bisa acaranya diwujudkan, dan yang paling penting lagi, semoga saya bisa ikutan LAGI. Hohoho. Ya! Hidup Djarum (ceritanya mau ngambil hati biar saya bisa ikut lagi).
June 13, 2008 at 2:12 pm
Hmm..
Saya berasak dari Kudus dan sekarang kuliah di Sastra Inggris Undip Semarang angkatan 2007..Iyapp..semester 2 sekarang,
Saya senang sekali anda memposting tentang Kudus dan Semarang..apalagi anda banyak memuji dan mengagumi keduanya..Hehhe..
Kudus memang kota kecil yang penuh impian *Hohhoho*, saya tidak pernah menyesal menghabiskan masa kecil hingga remaja saya di Kudus =)
Semarang memang kota tua yang menakjubkan meskipun kadang saya suka mengeluh karna panasnya yang na’udzubillah.. T_T juga bberapa kawasan kumuhnya yang Ohoookk..!!! T_T Hehhe..
Salam Kenal Kak Debie,
-Dini-