Semarang dan kota tuanya
Tempat kedua yang kami kunjungi di Semarang adalah Gereja Mblenduk. Nama ini diambil dari bentuk kubahnya yang bulat, hingga oleh masyarakat sekitar disebut ‘mblenduk’. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1753 ini merupakan satu-satunya bangunan model bergaya arsitektur seperti ini di seluruh dunia. Artinya, gereja macam ini tidak akan ditemui di Negara mana pun selain di Indonesia!
Dan walaupun gereja ini didirikan sejak beratus-ratus tahun yang lalu, ia masih tetap berdiri tegak dan secantik seperti pertama kali didirikan.
Di halaman gereja kami menjumpai dua orang ibu yang sedang berjualan berbagai jajanan bagi para jemaat. Beberapa orang peserta sempat mewawancarai kedua ibu ini. Sedangkan saya? Saya sibuk mencari cara untuk bisa masuk ke dalam dan mengambil foto tiap sudut gereja yang cantik ini. Sayangnya saya tidak dapat melakukannya dengan mudah, sebab karena saat itu adalah hari Minggu pagi, gereja dipadati oleh para jemaat yang sedang khusyuk beribadah. Dan saya (walaupun agak barbaric), tidak mau mengganggu ketenangan peribadatan saat itu.
Saat saya sedang sibuk-sibuknya mencari cara untuk mendapatkan foto dari dalam gereja, Nico dan Sanny menuju ke samping gereja dan berkata bahwa kami dapat mengambil foto dari lantai dua gereja. Maka saya pun mengikuti mereka sambil terus merasa was-was kalau-kalau ternyata perbuatan saya akan mengganggu para jemaat.
Lantai dua gereja dapat dicapai dengan menaiki tangga kayu. Tempatnya sedikit tersembunyi di atas dan berada di bagian belakang gereja, jadi walaupun kami naik ke sana untuk mengambil beberapa foto, tidak akan mengganggu jemaat yang lain.
Namun ternyata, kami salah duga. Sebab begitu menuruni tangga untuk kembali bergabung dengan peserta yang lain di dalam bus, kami bertiga diomeli oleh salah seorang pengurus gereja karena dianggap telah mengganggu jalannya peribadatan. Hehehe, nakal sih.
Salah satu yang juga membuat saya terkagum-kagum pada gereja ini adalah sebuah organ yang terpasang di sana sejak tahun 1894, namun sayangnya sudah tidak dapat digunakan lagi.
Tempat tujuan kami yang ketiga di Semarang juga tidak kalah indah. Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, yang akan saya bahas di postingan selanjutnya (hehehe).
Perjalanan yang singkat, padat dan melelahkan pun terlewati dengan mudah dan menyenangkan saat kami tiba di klenteng Sam Poo Kong.
Klenteng yang dibangun untuk merayakan kedatangan Laksamana Cheng Ho ke pulau Jawa ini begitu megahnya. Dan walaupun ini pertama kalinya saya mengunjungi klenteng, tetap saja bertahun-tahun setelah ini saya akan masih menganggap bahwa klenteng Sam Poo Kong ini adalah klenteng termegah yang pernah saya datangi.
Inilah hasil foto yang saya ambil di klenteng Sam Poo Kong secara diam-diam. Sebab tidak mungkin untuk membidik kamera tanpa ketahuan petugas keamanan klenteng. Mungkin karena klenteng masih dalam tahap pembangunan dan mungkin juga karena terlalu banyak artefak-artefak berharga di klenteng itu, sehingga untuk menghindari pencurian dan peniruan artefak, ditempuhlah aksi pengamanan ganda di klenteng dengan hanya diizinkannya pengambilan foto di tempat-tempat tertentu. Setelah selesai mengambil foto ini pun, saya masih kena omel sang petugas keamanan, walaupun saya mengambil fotonya diam-diam. Klik di sini untuk melihat foto –>Sam Poo Kong
January 29, 2008 at 6:52 pm
Assalamukum Debie,
Ternyata tulisan kamu seru ya. Gak sia-sia kamu selalu kumpul ke bus nya telat terus. Selamat dech juga buat teman-teman laen.
Oh, saya ada rencana ke kampung Baduy kira-kira finalist ada yg mau ikut gak ya, Back packer Sabtu Minggu, tanggal nya nanti saya atur. Biayanya keroyokan bagi rata. Banyak spot photo dan cerita yang asik2. Kabarin finalist yg laen ya.
Wassalam, LANGEN