Kemegahan klenteng tua Tay Kak Sie
Walaupun telah melewati empat jaman (jaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, masa kemerdekaan dan orde baru), Tay Kak Sie tidak pernah mengalami kerusakan berarti. Hanya, pada saat orde baru, umat Tridharma mengalami kesulitan beribadah karena pemerintah pada masa itu melarang segala bentuk hal yang berkaitan dengan budaya Tionghoa. Maka pada masa itu, umat Tridharma terpaksa beribadah dan mengunjungi klenteng secara sembunyi-sembunyi. Karena mereka takut jika ketahuan datang ke klenteng untuk beribadah, mereka akan dikenakan hukuman oleh pemerintah pada saat itu.
Yang tua yang bercahaya
Banyak sekali perlengkapan klenteng yang didatangkan langsung dari Cina saat dibangun yang masih sangat terawat. Saat mengelilingi klenteng, saya menjumpai patung Dewi Kwan Im, Kong Fu Tze, Buddha, dan
berbagai patung dewa yang saya tidak ketahui namanya. Di salah satu bagian klenteng terdapat patung seorang pria tua yang sedang memancing di dalam kolam teratai yang didiami ikan-ikan kecil. Menurut Pak Rudi, pria tua itu dilambangkan sebagai seorang jenderal dari Cina yang memiliki ilmu kesaktian yang sangat hebat hingga membuatnya dapat memancing hanya dengan memakai seuntas benang tanpa kail atau umpan. Saya beberapa kali berusaha memotret ikan-ikan kecil yang berada dalam kolam teratai, namun tidak pernah berhasil.
Di antara semuanya, yang paling mengesankan bagi saya adalah patung Buddha yang berada di ruangan utama klenteng. Patung berukuran besar ini ternyata dibuat di Indonesia dan bahan bakunya adalah kulit manggis!
Walaupun rata-rata perlengkapan klenteng berusia sama dengan klentengnya sendiri, namun kondisi mereka masih bagus dan tetap bersinar. Saking terawatnya klenteng serta kelengkapannya, awalnya saya mengira kalau klenteng ini baru dibangun setelah masa pemerintahan Gus Dur.
Saat mengelilingi klenteng bersama beberapa rekan peserta dan Pak Rudi, kami menemui salah satu ruangan dalam klenteng yang di salah satu bagiannya terdapat poe dan perlengkapan meramal. Salah satu perlengkapan meramal yang digunakan adalah sebuah gelas bambu yang berisi stik-stik bambu bernomor.
Cara menggunakan perlengkapan ini adalah dengan memegang gelas bambu lalu mengguncang-guncangkannya hingga salah satu stik bambu jatuh. Nomor yang tertulis di stik bambu ini kemudian dicocokkan dengan kertas ramal tua yang disimpan di sebuah lemari kecil. Karena tulisan yang tertera di atas kertas ini menyerupai puisi, maka diperlukan sebuah pengertian mendalam untuk dapat mengerti maksud dari tulisan itu.
Saya, yang sedari kecil sudah kenyang menonton film-film Cina, begitu melihat alat ramal ini langsung bersemangat melihatnya dipergunakan. Namun, karena saya takut akan ramalan, jadi saya memersilahkan salah seorang peserta, Henny untuk diramal. Setelah menjatuhkan stik bambu, Henny pun dibacakan tulisan dari kertas tua. Dan setelah itu, kepastian benar atau tidaknya ramalan dicek menggunakan sebuah kayu berbentuk kacang kedelai dibelah memanjang. Kedua bagian tadi besar dan bentuknya sama persis dan dinamakan poe.
Namun sayang waktu yang diberikan kepada kami saat mengunjungi klenteng ini tidak cukup lama. Rasanya masih banyak sekali bagian-bagian klenteng yang belum puas saya jelajahi. Waktu berkunjung pun usai saat Pak Joko Langen memanggil kami untuk kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan. Dada saya bergemuruh karena tidak sabar untuk menyampaikan kisah cinta saya ini kepada orang banyak.
Dan walaupun kali ini saya harus patah hati karena harus berpisah dengan Semarang dan Tay Kak Sie, namun yakinlah, aku pasti kembaliii….. ^_^
August 27, 2009 at 12:47 pm
minta alamat lengkapnya bio tay kak sie dong, thanks