Dufan, with love

Seumur hidup saya belom pernah mengeluarkan uang untuk masuk Dufan. Selalu gratis.

Kok bisa?

Bisa dooong. Debie gitu lhoooo. hahahhahahaaha.

Dulu, semasa almarhum ayah masih hidup, keluarga kami pergi ke Dufan setiap kali ada acara kantor ayah. Dan itu hampir setiap tahun. Lalu, setelahnya, biasanya saya masuk Dufan gratis karena dibayarin teman (cuma sekali) dan karena ikut kepanitiaan suatu acara.

Namun, diantara semua gratisan itu, yang paling berkesan bagi saya adalah ketika saya menjadi panitia di Kongres Anak Indonesia. Merayakan Hari Anak Nasional bersama ratusan anak dari seluruh Indonesia dan keluarga saya di Komnas Anak.

Pertama kali saya ikut acara Kongres Anak Indonesia (KAI) itu pada tahun 2006. Bersama teman-teman saya dari Kessos UI. Sarah, Yana dan lainnya (God! I really am bad with names. –ini sebenernya ga inget sama siapa aja perginya :p ).

Setelah berhari-hari sibuk dengan rentetan acara KAI (saya ingeeet waktu itu tiba-tiba didaulat jadi koordinator konsumsi, padahal baru pertama kali ikut KAI, dan ga ikut rapat koordinasi seksi konsumsi, dan Mbak Yuli lagi sibuk ngelahirin Satria. untung ada Zhaey yang baik hati yang bersedia nemenin dan bantuin saya–tapi saking stressnya saya waktu itu, Dika ampe kena semprot. hahahhaa) dan jatuh cinta berkali-kali dengan anak-anak Indonesia karena kehebatan mereka, kami akhirnya berangkat ke Dufan dan maiiiin di sana seharian.

Tahun 2006

Tahun ini rombongan main Dufan kami terdiri atas saya, Sarah, Yana, Imam, Dika (Mbak Sephin ikutan ga siiih? aku lupaaa). Pas pertama masuk, saya dan Sarah sudah bertekad untuk naik halilintar. Pikir kami (ralat: saya) waktu itu, “aaaah…, ganciil. ini mah maenan anak keciiil”, yang segera berubah ketika berada diatasnya menjadi, “TUHAAAANN…please hentikan roller coaster iniiiiii…saya mau turuuuuunn – tapi jangan ditengah-tengah yaa, Tuhan yang baik”.

Setelah puas main Halilintar, kami muterin Dufan ampe kelojotan. Dan mencatat dalam hati, kalau berikutnya punya kesempatan main lagi ke Dufan, kami TIDAK BOLEH lupa membawa air minum 1,5 liter dari rumah, karena ternyata air minum di Dufan itu MUAHAAAL (untuk ukuran mahasiswi bokek kayak kami berdua—saat itu :p ).

Saya juga sempet dikatain cemen oleh beberapa anak peserta KAI karena ga mau naik Kora-kora. Mereka ga tau aja kalo Kora-kora itu wahana yang sangat berbahaya. Saya pernah hampir pingsan setelah naik wahana itu—karena pusing dan mual. Dan bener aja kan, beberapa dari anak-anak yang sebelumnya ngatain saya itu turun dari Kora-kora dan…muntah. Hahahahha. Dibilangin ga percaya siiih.

Rumah cermin juga tanpa disangka-sangka telah berubah 180 derajat sejak terakhir kali saya mengunjunginya. Dahulu, sewaktu saya masuk ke rumah cermin bersama keluarga saya, mencari jalan keluar dari sana amatlah mudah. Merem juga nyampe. Tapi di tahun 2006, rumah cermin berhasil bikin saya nyasar sampe mual, dan memohon-mohon untuk keluar hingga berbalik kembali melewati pintu masuk.

Tahun 2008

Di tahun ini, saya sudah bergabung dengan keluarga Komnas Anak secara resmi. Saya, Mbak Mieke, Indira dan Yogi sudah pengen masuk ke istana boneka sejak awal masuk Dufan (yeaa…i know. it’s weird). Tapi kami, seperti orang-orang bijak lainnya, akhirnya berpikir untuk menyisihkan istana boneka untuk ditempatkan di akhir hari. Save the best for the last, gitu katanya.

Jadilah kami naik Bianglala sesampainya di Dufan. Yang kami kirain akan mengasyikkan, ternyataaaa…membosankaan. Ga penting banget deh ih itu wahana. Lama banget pulak. Lucunya, Indira sempat ketakutan waktu naik wahana itu. Mbak Mieke dan saya sempet ngintipin para bule yang lagi sunbathing di pantai Ancol (emang ada?).

Setelah itu kami berempat main di Arung Jeram (dimana kami berantem sama orang yang nyelak antrian dan saya salah ngenalin orang. hahhaha) hingga baju kami basah dan mengeringkannya di antrian Extreme Log: wahana 3D yang ga jelas dengan bangku yang bisa gerak-gerak sendiri. Main Boom-boom car, alap-alap, hingga akhirnya Istana Boneka.

Wahana apaan tuh. Sepanjang jalan cuman ada boneka-boneka mirip Chucky yang manggut-manggut ga jelas. Dan karena perahu yang kami naiki jalannya lambat banget, kami berempat mendorong perahu itu sekuat tenaga biar jalannya jadi cepet–ampe bikin tangani pegel. Mengapa kami waktu itu begitu bersemangat ingin masuk ke Istana Boneka masih merupakan misteri bagi saya sampai sekarang.

Sebelum keluar dari Dufan, saya tertarik ingin nyoba Komidi Putar nya Dufan. I thought it would be awesome. Because of its light bulbs, pretty horses and whatsoever. And people used to make pre wed photos on that ride, so I also thought it would be kind of romantic. Tapi karena temen-temen saya udah pada capek, jadilah saya main komidi putar itu sendirian sementara mereka balik ke bus (dimana unsur romantisnyaaa cobaa?). Well, I was excited when I joined the queue. Look at those pretty horses! But yeaah…seharusnya Dufan memasang tanda: hanya untuk pengunjung yang berusia maksimal 5 tahun. Komidi putar ternyata lebih parah daripada Bianglala. I felt nothing but STUPID. Dan terus-terusan bertanya-tanya, “ini kapan berhentinya? kalo kelamaan, mendingan gue loncat ajalah”. And yes, I jumped. Saat komidi putarnya masih berjalan. Bayangkan! Segitu garingnya! hahahahhaa.

Tahun 2009

Tahun ini saya ga kebagian tiket masuk ke Dufan. Banyak pendamping gelap yang ‘mencuri’ tiket hingga cuma tersisa dua tiket untuk tiga orang panitia. Saya, Shima dan Opik. Kami merelakan satu tiket terakhir untuk Opik, karena dia pengen banget masuk. Dan Shima mengatakan kepada saya, “Kalau lo ga masuk, gue juga ga masuk” Owwwhh…sungguh, saya tersanjung dengan sikap solidernya. Hingga ia melanjutkan kalimat berikutnya, “Kan kalo kita ga masuk, kita bisa minta makan di Bandar Jakarta aja Boy” :p :p :p

Tapi akhirnya Bang Hery bilang, mendingan kami ikut aja ke gerbang masuk Dufan. Nanti dia akan cari cara agar kami semua bisa masuk. Di pintu gerbang Dufan, saya tetep ga bisa masuk karena ga punya tiket. Untungnya Mbak Sephin dan kawan-kawan masih berada di depan gerbang. Seperti biasa, Mbak Sephin yang cantik dan baik hati ini selalu punya kekuatan menakjubkan untuk melobi orang. Dan seperti yang biasanya terjadi: ia sukses! Saya berhasil masuk Dufan. Walaupun tanpa cap di tangan (yang tandanya, saya bisa masuk, tapi ga bisa main wahana apapun).

Melihat saya yang masuk tanpa cap di tangan, kawan-kawan Komnas Anak (or should I say, my family :D ) menempelkan cap ditangan mereka ke tangan saya, agar saya bisa ikut menikmati permainan-permainan di Dufan.. Saya ga begitu inget siapa saja yang melakukannya (saking banyaknya–and I had bleary eyes at that time), tapi waktu itu saya begitu terharu dengan sikap mereka hingga hampir menangis. Hati saya penuh. Oleh cinta. Saya ga akan pernah lupa kejadian itu. Yang membuat saya merasa sangat beruntung. Saya diberkahi Tuhan dengan karunia yang sangat indah. Sahabat-sahabat saya di Komnas Anak.

Nah, saya sudah berhasil masuk Dufan dan mendapatkan cap di tangan. Lalu, apa wahana yang saya naiki di tahun 2009?

None. Tidak ada.

Saking capeknya saya dan Shima, pada akhirnya kami memutuskan untuk tidak naik wahana apapun.

Satu-satunya hal yang kami lakukan pada saat berkunjung ke Dufan di tahun itu adalah:

  1. merayakan HAN di aula Rama Shinta bersama ratusan anak-anak dari seluruh Indonesia dan para pejabat pemerintahan
  2. makan siang
  3. sholat Dzuhur
  4. dan yang terakhir: tidur di pinggir kolam di seberang musholla–pinggir kolam a.k.a trotoar. hahahahahaha

Dan walaupun saya tidak naik wahana apapun di tahun itu, turns out that it was the best Dufan moment for me.

2 Responses to “Dufan, with love”

  1. hem…..enaknya……seumur-umur…ke ancol….cuma dufan doang yang belum pernah disinggahi…:’(….

    …oia….salam kenal…

  2. dufaaaaaaaaaaannnnnnnnn……..
    lama gak maen………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.